CFC (Community Feeding Center)

Klayusiwalan, Kamis, 2 Mei 2019

Penulis: Fathur Rohman

Bertempat di Balai Desa Klayusiwalan Kec. Batangan diadakan pertemuan yang dihadiri oleh Tim dari Puskesmas, Perangkat Desa, Kader Posyandu dan Tokoh masyarakat setempat dalam rangka pembentukan Pos Pemulihan gizi/ CFC (Community Feeding Center).

CFC (Community Feeding Center )Adalah suatu program berbasis masyarakat untuk memantau & mengatasi kondisi balita kurang gizi di lingkungannya dengan sasaran treatment sebagai berikut:

  1.  Anak BGM (Bawah Garis Merah)
  2.  Anak 2 T pada penimbangan rutin
  3.  Anak gizi buruk tanpa komplikasi
  4.  Anak gizi buruk pasca perawatan

CFC menyikapi permasalahan utama yaitu Penyebab Gizi Buruk. Kasus gizi buruk dapat disebabkan oleh asupan makanan anak yang kurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk melakukan aktivitas dan berkembang. Hal ini dapat terjadi karena pola asuh yang salah, seperti ibu yang sibuk bekerja sehingga anak  tidak terawat (biasa terjadi di pedesaan). Keadaan ini diperberat dengan kebiasaan seperti  memberikan makanan padat sebelum usia 6 bulan dan kadang tidak hygienis. Gizi buruk sangat berhubungan dengan penyakit infeksi, hal ini dapat digambarkan seperti telur dan ayam. Mana yang lebih dulu terjadi tidaklah perlu dipersoalkan, yang terpenting adalah segera menanggulangi keadaan tersebut. Cara termudah untuk mendeteksi status gizi di masyarakat dapat dilakukan melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan di Posyandu. Status gizi balita dipantau dengan KMS yang saat ini sudah diperbaharui dengan membedakan antara KMS untuk anak perempuan dan anak laki-laki. Tidak hanya status gizi yang dapat dilihat pada grafik/alur  di KMS  tetapi pertambahan berat badan setiap bulan yang harus dipenuhi bisa menjadi patokan bagi orang tua, keluarga dan kader serta petugas kesehatan.

Peran penting dari kader posyandu adalah kunci utama keberlangsungan program CFC ini, dan juga dari Pemerintah desa dalam mendukung program tersebut.

Kendala yang dialami adalah banyak program kesehatan yang masuk ke desa namun yang menjadi bumerang adalah petugas utama yaitu kader posyandu yang selama ini tugas beratnya harus didasari dengan keihlasan karena untuk insentif tidak bisa dianggarkan. Untuk itu harapan dari Pemdes Klayusiwalan agar kader Posyandu dapat diberikan Insentif.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan