Suksesnya Usaha Pabrik Penggilingan Limbah Kain Perca di Desa Klayusiwalan

klayusiwalan-batangan.desa.id. Kain perca merupakan potongan-potongan kain kecil sisa dari pembuatan pakaian. Tak disangka dari limbah kain perca tersebut dapat membuka peluang usaha dengan mengais omset hingga puluhan juta perbulan.

Bapak Siswanto (32) merupakan pemilik usaha pabrik penggilingan limbah kain perca di desa Klayusiwalan, RT. 09, RW. 01, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. “Sumber Rejeki Makmur” adalah industri pabrik penggilingan bahan limbah kain perca menjadi dakron atau isi bantal, guling, boneka, dll, satu-satunya yang ada di desa Klayusiwalan.

“Melihat banyaknya limbah diberbagai daerah di Indonesia. Mulai dari limbah plastik, kain perca, dll. Dari sana saya memiliki ide atau inisiatif untuk membuka peluang usaha yaitu pabrik penggilingan kain perca menjadi produk yang dapat digunakan kembali.” Ujar bapak Siswanto selaku pemilik pabrik.

UMKM ini unik karena memanfaatkan bahan limbah menjadi produk yang dapat digunakan kembali. Usaha ini sudah berdiri sejak tahun 2018, dan telah memiliki Nomor ijin usaha. Penjualan hasil produk dalam sebulan kurang lebih sekitar 52.000 ton daswol. Ada 12 orang karyawan yang bekerja di pabrik tersebut.

Proses produksi yang pertama yaitu kain perca dipotong menjadi bagian yang lebih kecil agar memudahkan dalam proses penggilingan. Kemudian hasil potongan dimasukkan ke dalam mesin penggiling, dan hasil gilingan dikumpulkan ke dalam karung besar yang sudah dijahit terlebih dahulu.

Hasil gilingan kain perca

Biasanya hasil produksi dipesan oleh pabrik-pabrik besar. Penjualan rata-rata dalam satu bulan sekitar 10 juta sampai 50 juta.

Melihat dari kesuksesan pabrik, walaupun begitu pasti terdapat banyak kendala yang harus dihadapi. “Biasanya kendala yang dihadapi mesin tiba-tiba rusak mbak. Jadi ya pabrik harus ditutup sementara. Biasanya membutuhkan waktu 3 hari untuk perbaikan mesin.” Ujar mbak Riska selaku sekretaris pabrik.

Foto bersama mbak Riska selaku sekretaris di pabrik.

Walaupun begitu, pabrik tersebut merupakan satu-satunya sumber rezeki para pekerja. Jadi para pekerja tetap sabar dan semangat dalam mengais pundi-pundi rupiah.

“Harapan saya dengan adanya usaha pabrik ini dapat mengurangi pencemaran limbah yang ada di lingkungan dan dapat membuka lowongan pekerjaan bagi warga sekitar.” Ujar pak Siswanto.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan